Friday, October 31, 2025

Dari 95 Tesis ke 508 Tahun Refleksi: Apa Arti Reformasi Gereja bagi Kita?



 Pendahuluan

Setiap tanggal 31 Oktober, gereja-gereja di banyak negara menandai hari yang dikenal sebagai Hari Reformasi — hari yang menandai titik tolak gerakan yang dimulai ketika Martin Luther menyerang 95 Tesisnya pada pintu Gereja Kastil Wittenberg pada tahun 1517. Pada tahun 2025 kita memperingati sekitar 508 tahun peristiwa itu. Lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Reformasi mengandung pesan dan tantangan yang tetap relevan bagi kehidupan jemaat masa kini: tentang otoritas firman, iman yang hidup, dan panggilan untuk pembaruan terus-menerus.

Latar belakang sejarah singkat

Reformasi lahir di tengah kritik terhadap praktek-praktek gerejawi abad ke-16: perdagangan indulgensi (surat pengampunan), penyelewengan jabatan rohani, dan akumulasi kekuasaan maupun kekayaan yang mengaburkan tugas pastoral. Tokoh-tokoh seperti Martin Luther (Jerman), Ulrich Zwingli (Swiss), dan John Calvin (Prancis-Swiss) menuntut kembalinya Gereja kepada ajaran Alkitab dan iman yang sederhana. Mereka menekankan bahwa keselamatan adalah dari kasih karunia Allah melalui iman (sola fide) dan bahwa Firman Allahlah otoritas utama dalam iman dan kehidupan (sola scriptura).

Timeline Reformasi Gereja:

  • Pra-1517 – Masa sebelum Reformasi ditandai dengan kritik terhadap penyalahgunaan kuasa Gereja Katolik dan kebangkitan humanisme renaisans yang menekankan kebebasan berpikir dan kembali ke sumber (ad fontes).

  • 1517 – Martin Luther menempelkan 95 Tesis di pintu Gereja Kastil Wittenberg (Jerman), memicu diskusi besar tentang doktrin dan praktik gereja.

  • 1521 – Luther dihadapkan pada Dieta Worms dan menolak mencabut ajarannya; ia kemudian diasingkan di Kastil Wartburg, di mana ia mulai menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman.

  • 1522–1531Ulrich Zwingli memimpin gerakan Reformasi di Zürich, Swiss. Ia menolak misa, menekankan khotbah berbasis Alkitab, dan memperkenalkan bentuk ibadah sederhana tanpa ornamen berlebihan. Setelah gugur dalam pertempuran Kappel (1531), pengaruhnya tetap kuat di Swiss dan Jerman Selatan.

  • 1536John Calvin menerbitkan edisi pertama Institutes of the Christian Religion, karya teologis besar yang menata ulang doktrin Protestan secara sistematis. Ia kemudian menetap di Jenewa dan memimpin pembaruan kehidupan jemaat dengan disiplin dan pendidikan rohani yang ketat.

  • 1555Perdamaian Augsburg menetapkan “cuius regio, eius religio” (agama penguasa menentukan agama wilayahnya), menandai pengakuan politik terhadap gerakan Reformasi di Jerman.

  • 1560–1600-an awal – Ajaran Calvin menyebar luas ke Prancis, Skotlandia, Belanda, dan Inggris, melahirkan gerakan Reformed dan Presbiterian. Reformasi juga meluas ke dunia baru, mempengaruhi koloni Eropa dan menumbuhkan berbagai denominasi Protestan.

Pokok-pokok teologi reformasi singkat

  1. Sola Scriptura — Alkitab sebagai otoritas tertinggi.

  2. Sola Fide — Kebenaran di hadapan Allah diterima melalui iman, bukan karya manusia.

  3. Sola Gratia — Keselamatan adalah anugerah Allah semata.

  4. Solus Christus — Kristus sebagai satu-satunya perantara.

  5. Soli Deo Gloria — Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Dampak historis yang penting

Reformasi mengubah wajah Eropa: memunculkan denominasi-denominasi Protestan, menggeser hubungan antara Gereja dan negara, mendorong terjemahan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal, serta mempercepat budaya membaca dan pendidikan yang terkait dengan sekolah dan pelayanan liturgis dalam bahasa bangsa. Selain itu, Reformasi menumbuhkan tradisi kritik terhadap otoritas gerejawi, yang di satu sisi menghasilkan pembaruan, namun di sisi lain juga menyebabkan perpecahan denominasi.

Refleksi bagi kehidupan gereja masa kini (jemaat)

  1. Kembali pada Alkitab: Reformasi mengingatkan gereja untuk selalu menguji ajaran dan praktiknya menurut Firman Tuhan. Bukan berarti menolak tradisi, tetapi menempatkannya di bawah otoritas Kitab Suci.

  2. Iman yang aktif: Iman bukan sekadar ritus; iman menghasilkan kehidupan yang berubah — pelayanan, kasih, dan keadilan sosial. Jemaat dipanggil untuk menjadi subjek, bukan objek, dalam kehidupan rohani.

  3. Integritas pelayanan: Kritik terhadap penyalahgunaan kuasa pada masa Reformasi menantang gereja masa kini untuk transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan yang rendah hati.

  4. Pendidikan iman: Salah satu buah Reformasi adalah dorongan untuk membaca Alkitab sendiri. Gereja perlu terus membangun budaya membaca Kitab Suci, pengajaran katekis, dan pembinaan rohani yang relevan.

  5. Spirit reformasi sebagai sikap: Reformasi bukan hanya peristiwa sejarah yang terjadi sekali; ia adalah semangat pembaruan yang terus-menerus. Jemaat harus terbuka untuk evaluasi dan perubahan ketika tradisi atau praktik menyimpang dari panggilan Injil.

Praktik nyata bagi jemaat dan pelayan gereja

  • Mendorong kelompok baca Alkitab dan studi teologia dasar di tingkat jemaat.

  • Menata ulang struktur keuangan dan tata kelola untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.

  • Memprioritaskan pelayanan yang membela kaum lemah dan menghidupi ajaran kasih Kristus.

  • Merefleksikan unsur-unsur liturgi atau kebiasaan yang mungkin menutupi pesan Injil dan mempertimbangkan reformasi budaya ibadah bila perlu.

Tantangan dan catatan keseimbangan

Walau semangat Reformasi menyumbang banyak kebaikan—kebebasan beriman, terjemahan Alkitab, dan pembaruan gereja—perpecahan denominasi dan terkadang sikap dogmatis juga menjadi soal. Refleksi kontemporer perlu menyeimbangkan kerinduan akan kebenaran teologis dengan sikap ekumenis dan persaudaraan antar-jemaat.

Penutup

508 tahun setelah 95 Tesis, yang relevan bukanlah merayakan masa lalu semata, melainkan menegaskan panggilan untuk hidup sebagai jemaat yang setia kepada Firman, rendah hati dalam pelayanan, dan terus membuka diri pada pembaruan rohani. Semangat Reformasi memanggil kita: bukan hanya untuk mengingat sejarah, tetapi untuk bertanya setiap hari — bagaimana iman kita menjawab kebutuhan zaman dan memuliakan Allah di tengah masyarakat yang terus berubah?

Daftar Pustaka (rekomendasi bacaan)

  • Luther, Martin. 95 Theses (1517).

  • MacCulloch, Diarmaid. The Reformation: A History.

  • Roper, Lyndal. Martin Luther: Renegade and Prophet.

  • Calvin, John. Institutes of the Christian Religion.

  • Ensiklopedia Gereja dan sumber daring: beranda-pendeta.org, ruangguru.com, pijarbelajar.id, sabda.org, Wikipedia Indonesia (Reformasi Protestan).

Wednesday, October 29, 2025

BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN HORMAT DAN TAKUT


 Bacaan: Ibrani 12:25–28

“Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman. Sebab jikalau mereka yang menolak Dia yang memberi peringatan di bumi tidak luput, terlebih lagi kita, kalau kita berpaling dari Dia yang memberi peringatan dari sorga... Sebab kerajaan yang tidak tergoncangkan ialah kerajaan kita; karena itu marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.”


1. Pendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Dalam kehidupan iman, kita sering menganggap ibadah sebagai rutinitas — datang ke gereja, menyanyi, berdoa, memberi persembahan, lalu pulang. Namun, penulis surat Ibrani mengingatkan bahwa ibadah bukanlah sekadar kegiatan keagamaan, tetapi perjumpaan dengan Allah yang hidup. Ibadah adalah tanggapan kita terhadap anugerah Allah yang besar, dan harus dilakukan dengan hormat dan takut.

Ayat ini muncul dalam konteks penulis Ibrani membandingkan dua gunung: Gunung Sinai — lambang perjanjian lama yang penuh ketakutan, dan Gunung Sion — lambang anugerah dan kerajaan yang kekal. Namun, anugerah bukan berarti kita boleh bersikap sembarangan di hadapan Allah. Sebab Allah yang penuh kasih itu juga adalah “api yang menghanguskan.”

2. Tafsiran dan Makna Perikop (Ibrani 12:25–28)

a. Ayat 25:

“Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman.”
→ Peringatan agar jemaat tidak menolak suara Allah. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel menolak firman Allah di Sinai, dan mereka tidak luput dari hukuman. Penulis menegaskan: kalau mereka yang mendengar dari bumi saja (di Sinai) tidak luput, bagaimana dengan kita yang mendengar langsung dari surga melalui Kristus?

b. Ayat 26–27:
Allah pernah menggoncangkan bumi, tetapi akan datang waktu Ia menggoncangkan langit juga.
→ Guncangan ini adalah lambang penghakiman Allah — pemisahan antara yang fana dan yang kekal. Segala yang rapuh akan hilang, yang kekal akan tinggal. Ibadah sejati menghubungkan kita dengan hal-hal yang kekal, bukan dengan yang sementara.

c. Ayat 28:
Karena kita menerima “kerajaan yang tidak tergoncangkan”, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah dengan hormat dan takut.
→ Ibadah bukan karena kewajiban, tetapi karena syukur atas kasih karunia yang kekal. Namun, syukur itu harus diwujudkan dalam sikap penuh hormat dan kesadaran akan kekudusan Allah.

Makna Alkitabiah: Allah adalah Raja yang berdaulat, kekudusan-Nya menuntut sikap hormat dan ketundukan penuh.
Makna Filosofis: “Hormat dan takut” bukan ketakutan destruktif, melainkan kesadaran eksistensial manusia di hadapan realitas Ilahi yang tak terbandingkan.
Makna Rohaniah: Ibadah sejati lahir dari hati yang tunduk dan kagum akan kebesaran Allah, bukan dari formalitas atau rutinitas keagamaan.

3. Isi Renungan

Dalam dunia modern, banyak orang beribadah tanpa rasa gentar. Gereja menjadi tempat yang nyaman, tetapi kehilangan rasa kudus. Banyak orang datang dengan sikap santai, bahkan lalai menyiapkan hati.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah yang kita sembah bukan “teman biasa”, tetapi Allah yang kudus, yang firman-Nya tidak boleh ditolak.
Kita beribadah bukan untuk menyenangkan diri, tetapi untuk menghormati Dia yang berkuasa atas hidup dan maut.

Allah kita adalah “api yang menghanguskan”, artinya Dia adalah sumber kekudusan dan kebenaran yang membakar segala dosa dan kepalsuan. Maka, sikap ibadah yang benar harus dilandasi:

  1. Rasa syukur atas anugerah keselamatan,

  2. Rasa hormat karena kebesaran Allah,

  3. Rasa takut yang suci karena kesadaran akan kekudusan-Nya.

4. Cerita Inspirasi / Analogi Kehidupan

Ada seorang raja besar yang sangat dihormati rakyatnya. Suatu hari ia mengundang semua pejabat untuk menghadiri upacara kerajaan. Seorang pejabat muda datang dengan pakaian seadanya dan berperilaku seenaknya. Ketika raja melihatnya, ia berkata, “Engkau tidak menghormati takhta ini. Bukan karena aku ingin menakut-nakutimu, tetapi karena engkau tidak memahami siapa yang engkau hadapi.”

Demikian pula dalam ibadah. Kadang kita datang kepada Allah tanpa kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Raja segala raja. Allah tidak menuntut penampilan lahiriah yang sempurna, tetapi hati yang gentar, hormat, dan rendah diri di hadapan-Nya.

5. Implikasi dalam Kehidupan Jemaat

  1. Ibadah harus disiapkan dengan hati dan pikiran yang kudus.
    Jangan datang ke gereja hanya karena kebiasaan, tetapi dengan kesadaran akan hadirat Allah.

  2. Hidup sehari-hari harus menjadi kelanjutan dari ibadah.
    Jika kita sungguh menghormati Allah, maka nilai ibadah harus tampak dalam sikap, tutur kata, dan tindakan kita di rumah, di kantor, dan di masyarakat.

  3. Ibadah harus membawa perubahan hidup.
    Jika setiap ibadah membuat kita semakin takut akan dosa dan semakin mengasihi sesama, maka ibadah itu berkenan kepada Allah

6. Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah selama ini saya beribadah dengan kesadaran akan kekudusan Allah?

  2. Apakah ibadah saya masih penuh hormat, atau hanya rutinitas tanpa makna?

  3. Bagaimana saya menunjukkan rasa takut dan hormat kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari?

7. Kesimpulan

Allah yang kita sembah adalah Allah yang sama — dahulu, sekarang, dan selamanya. Ia penuh kasih, tetapi juga kudus dan adil. Karena itu, marilah kita beribadah dengan hati yang bersyukur, jiwa yang tunduk, dan hidup yang berkenan kepada-Nya.

Ibadah sejati bukan sekadar datang ke gereja, tetapi hidup setiap hari dengan kesadaran bahwa kita berada di hadapan Allah yang kudus. Kiranya hati kita senantiasa gentar oleh kasih dan kemuliaan-Nya, agar kita layak menjadi warga kerajaan yang tidak tergoncangkan.

“Marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28)

Amin- Than memberkati kita dengan firmannya. 

Wednesday, October 22, 2025

Ibadah Rumah Tangga (IRT) Rayon Manuai: Teladan Iman Bukan Soal Usia

Rayon Manuai – Ibadah Rayon Manuai berlangsung penuh hikmat pada Selasa, 21 Oktober 2025, pukul 19.00 WITA. Ibadah Rumah Tangga (IRT) ini dilaksanakan di kediaman Bapak Rengky Mehang Bulodo dan dipimpin oleh Penatua John A. Repi.

Bacaan Firman Tuhan diambil dari 1 Timotius 4:1–16 dengan tema “Teladan Iman Bukan Soal Usia.” Dalam renungannya, Penatua John A. Repi menegaskan bahwa kedewasaan iman tidak ditentukan oleh umur seseorang, melainkan oleh kualitas hubungan dan ketaatan kepada Tuhan dalam menjalani hidup setiap hari.

Beliau menyampaikan bahwa sering kali kita menjumpai orang yang sudah berumur dewasa secara jasmani, tetapi perilakunya belum mencerminkan kedewasaan rohani. Sebaliknya, ada anak muda yang hidupnya menunjukkan kedewasaan iman, penuh integritas, serta tanggung jawab dalam melaksanakan tugas pelayanan dan kehidupan sehari-hari.

“Menjadi teladan dalam iman berarti hidup dalam kebenaran dan ketulusan, setia dalam pelayanan, jujur dalam perkataan, dan disiplin dalam tindakan,” ujar Penatua John. Ia juga mengajak seluruh jemaat untuk tidak meremehkan diri sendiri karena usia muda, melainkan menjadikan iman, kasih, dan kesetiaan sebagai bukti nyata dari kedewasaan rohani.

Ibadah berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh sukacita. Lagu-lagu pujian mengiringi setiap bagian ibadah, mempererat persekutuan jemaat Rayon Manuai. Di akhir ibadah, seluruh jemaat saling bersalaman dan menikmati kebersamaan dalam kasih Kristus.

Melalui ibadah ini, jemaat diingatkan kembali bahwa menjadi teladan iman bukanlah soal berapa lama seseorang hidup di dunia, tetapi seberapa dalam ia menghidupi imannya dalam tindakan nyata setiap hari.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Rayon Manuai menyampaikan penegasan terkait kegiatan jemaat dalam satu minggu ke depan sebagaimana telah termuat dalam Warta Mimbar GMIT Kalvari Maumere. Jemaat diingatkan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan UPP/BPP serta memberikan dukungan penuh kepada Panitia Hari Raya Gerejawi (HRG) dalam rangka mendukung kegiatan dan memperingati Hari Ulang Tahun GMIT ke-78 serta Hari Reformasi ke-508.

Koordinator Rayon menekankan pentingnya keterlibatan seluruh jemaat dalam doa, tenaga, dan partisipasi nyata agar seluruh rangkaian kegiatan HRG dapat berjalan dengan baik dan menjadi kesaksian iman bersama.