Monday, September 14, 2026

PERGI KE GEREJA ATAU MENGHADAP TUHAN?

Bacaan Alkitab : Mazmur 42:2–3

Tema: “Datang ke gereja bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi menghadap Tuhan dengan hati yang rindu kepada-Nya.



A  Pendahuluan: Apa tujuan kita pergi ke gereja?


Hari ini kita pergi ke gereja atau kita datang menghadap Tuhan? Secara fisik, keduanya mungkin terlihat sama. Kita bangun, mandi, berpakaian, lalu berjalan atau berkendaraan menuju gereja. Kita duduk di bangku yang sama, mengikuti liturgi, menyanyi, berdoa dan mendengarkan firman.Tetapi ada perbedaan yang sangat mendalam:  Pergi ke gereja berbicara tentang tempat yang kita datangi. Menghadap Tuhan berbicara tentang Pribadi yang kita cari. Seseorang dapat pergi ke gereja tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Sebaliknya, orang yang sungguh-sungguh menghadap Tuhan datang dengan kerinduan, penghormatan, pertobatan dan kesiapan untuk mendengar firman-Nya.



B. Pergi ke gereja dapat menjadi rutinitas


Ada bahaya ketika ibadah berubah menjadi kebiasaan semata. Kita mungkin berpikir:

  • Hari Minggu memang waktunya ke gereja;
  • Saya sudah biasa pergi gereja;
  • Kalau tidak pergi nanti ditanya;
  • Yang penting saya sudah hadir;
  • Saya sudah mengikuti ibadah, berarti kewajiban saya selesai.

Pertanyaannya:

Apakah kehadiran tubuh kita di gereja selalu berarti hati kita hadir di hadapan Tuhan? Kita bisa hadir secara fisik, tetapi pikiran sibuk dengan pekerjaan, keluarga, masalah ekonomi, konflik, telepon genggam, atau persoalan lainnya. Karena itu, kehadiran di gereja belum tentu sama dengan perjumpaan dengan Tuhan.



C. Menghadap Tuhan berarti datang dengan hati yang rindu


Mazmur 42:2–3 menggambarkan kerinduan yang sangat dalam kepada Allah. Pemazmur tidak sekadar ingin datang ke sebuah tempat. Ia merindukan Allah sendiri.

Inilah inti ibadah: Kita bukan terutama mencari gedung gereja, suasana ibadah, musik, khotbah atau pertemuan dengan sesama; kita datang karena kita membutuhkan Tuhan. Orang yang menghadap Tuhan berkata dalam hatinya: “Tuhan, saya datang karena saya membutuhkan-Mu.”

  • Ketika hati sedang gelisah, kita datang kepada Tuhan.
  • Ketika hidup terasa berat, kita datang kepada Tuhan.
  • Ketika bersukacita, kita datang mengucap syukur kepada Tuhan.
  • Ketika berdosa, kita datang memohon pengampunan.
  • Ketika tidak tahu jalan hidup, kita datang meminta petunjuk Tuhan.



D. Apa perbedaan “pergi ke gereja” dan “menghadap Tuhan”?


Pergi ke gereja

Menghadap Tuhan

Fokus pada tempat

Fokus pada Tuhan

Bisa menjadi rutinitas

Menjadi kerinduan

Tubuh hadir

Tubuh dan hati hadir

Sekadar mengikuti liturgi

Menghayati ibadah

Mendengar firman

Membuka hati terhadap firman

Pulang seperti biasa

Pulang dengan perubahan

Gereja menjadi tujuan

Tuhan menjadi tujuan


Pertanyaan penting bagi jemaat: 

“Setelah saya beribadah, apakah saya hanya pulang dari gereja, atau saya pulang dengan membawa Tuhan dalam kehidupan saya?”



E.  Menghadap Tuhan menuntut kesiapan hati


Sebelum masuk gereja, kita perlu mempersiapkan bukan hanya pakaian, tetapi juga hati.

Ada tiga sikap penting:

a. Hati yang rindu
    Ya Tuhan, saya ingin berjumpa dengan-Mu

b. Hati yang terbuka
    Ya Tuhan, berbicaralah melalui firman-Mu.

c. Hati yang siap berubah
    Ya Tuhan, tunjukkan apa yang harus saya perbaiki.”

Dengan demikian, ibadah bukan hanya kegiatan satu atau dua jam, tetapi menjadi perjumpaan yang memengaruhi seluruh kehidupan.



F. Gereja adalah tempat persekutuan, tetapi Tuhanlah pusat ibadah

Jangan sampai kita datang ke gereja hanya karena:

  • ingin bertemu teman;
  • mengikuti kebiasaan keluarga;
  • menjalankan kewajiban;
  • takut mendapat teguran;
  • mencari kenyamanan;
  • atau sekadar memenuhi daftar kehadiran.

Semua itu tidak salah pada dirinya sendiri. Namun semuanya tidak boleh menggantikan tujuan utama, yaitu beribadah dan menghadap Tuhan.

Gereja adalah tempat kita berkumpul, tetapi Tuhan adalah pusat yang kita sembah.



G. Bagaimana seharusnya kita datang ke gereja?


Renungan dapat diarahkan pada 5 persiapan sebelum ibadah:

  1. Datang dengan kerinduan – Saya ingin bertemu Tuhan
  2. Datang dengan ucapan syukur – mengingat kebaikan Tuhan.
  3. Datang dengan pertobatan – mengakui kesalahan dan dosa.
  4. Datang dengan hati terbuka – siap mendengar firman.
  5. Datang dengan komitmen – siap melakukan firman setelah pulang.

Dengan demikian, kita tidak hanya bertanya:

“Apakah saya pergi ke gereja hari ini?”

Tetapi bertanya:

“Apakah hari ini saya sungguh-sungguh menghadap Tuhan?”



H. Implikasi dalam kehidupan jemaat

Jika kita sungguh-sungguh memahami ibadah sebagai perjumpaan dengan Tuhan, maka dampaknya harus terlihat setelah ibadah.

Orang yang menghadap Tuhan seharusnya pulang dengan hati yang berbeda.

  • Yang marah belajar mengampuni.
  • Yang gelisah belajar percaya.
  • Yang lemah memperoleh kekuatan.
  • Yang berdosa bertobat.
  • Yang putus asa memperoleh pengharapan.
  • Yang sombong belajar merendahkan diri.
  • Yang mengalami berkat belajar bersyukur.
  • Yang memiliki kekurangan belajar berharap kepada Tuhan.
  • Yang memiliki kelebihan belajar berbagi.

Jadi, ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya berapa banyak orang yang hadir, tetapi berapa banyak kehidupan yang disentuh dan diubahkan oleh Tuhan.



I.  Pertanyaan refleksi untuk jemaat


Akhiri bagian renungan dengan beberapa pertanyaan yang hening dan personal:

Mengapa saya pergi ke gereja?

Apa yang sebenarnya saya cari ketika datang beribadah?

Apakah tubuh saya hadir tetapi hati saya jauh dari Tuhan?

Apakah saya sungguh mendengarkan ketika Tuhan berbicara melalui firman-Nya?

Apakah setelah pulang dari gereja ada sesuatu dalam hidup saya yang berubah?

Jika Tuhan melihat hati saya hari ini, apakah Dia menemukan kerinduan kepada-Nya?



J. Penutup: Jangan hanya datang ke rumah Tuhan


Pesan terakhir dapat dibuat kuat:

Jangan hanya pergi ke gereja.
Datanglah menghadap Tuhan.

Jangan hanya membawa tubuh kita ke gereja, tetapi bawalah hati kita.

Jangan hanya membuka buku nyanyian, tetapi bukalah hati kita.

Jangan hanya mendengar khotbah, tetapi dengarkan suara Tuhan.

Jangan hanya mengikuti ibadah, tetapi berjumpalah dengan Tuhan.

Dan ketika ibadah selesai, jangan tinggalkan Tuhan di gedung gereja.

Bawalah firman-Nya pulang ke rumah.
Bawalah kasih-Nya ke dalam keluarga.
Bawalah pengampunan-Nya kepada sesama.
Bawalah terang-Nya ke tempat kerja.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan Tuhan bukan hanya:

“Apakah engkau datang ke gereja?”

Tetapi:

“Apakah engkau datang kepada-Ku?”


Kesimpulannya adalah

“Pergi ke gereja adalah perjalanan kaki; menghadap Tuhan adalah perjalanan hati.”

Dan: “Jangan puas hanya dengan hadir di hadapan jemaat. Datanglah sungguh-sungguh ke hadapan Tuhan.” 

Sunday, September 13, 2026

GELISAH DI ZAMAN INI, BERHARAP DI DALAM KRISTUS : MENGAPA HATIKU GELISAH?

 Bacaan Alkitab : Mazmur 42:6

Tema: Ketika hati gelisah, jangan kehilangan Tuhan.

A. Pendahuluan

Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Informasi datang setiap detik. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia hanya melalui telepon genggam. Namun, anehnya, semakin banyak informasi yang kita terima, semakin banyak pula hal yang membuat hati kita gelisah.

Remaja gelisah memikirkan sekolah, pergaulan, penampilan dan masa depan. Orang tua gelisah memikirkan pekerjaan, ekonomi dan masa depan anak-anak. Orang yang bekerja gelisah dengan tuntutan pekerjaan. Orang yang sudah lanjut usia gelisah dengan kesehatan dan masa depan keluarganya.

Ada satu kenyataan yang harus kita akui: orang beriman pun dapat mengalami kegelisahan. Pemazmur berkata:“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Perhatikan bahwa pemazmur tidak berpura-pura kuat. Ia mengakui keadaan jiwanya.


B. Tafsiran

Mazmur 42 menggambarkan seseorang yang sedang mengalami tekanan batin. Ia rindu kepada Tuhan, tetapi keadaan hidup membuatnya merasa jauh dan tertekan. Yang menarik adalah pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berkata kepada jiwanya:

“Berharaplah kepada Allah!”

Ini menunjukkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah merasa takut. Iman berarti ketika kita takut, kita tetap mengarahkan hati kepada Tuhan.

Kegelisahan dapat memenuhi pikiran kita dengan pertanyaan:

  1. “Bagaimana kalau saya gagal?”
  2. “Bagaimana kalau anak saya tidak berhasil?”
  3. “Bagaimana kalau pekerjaan saya hilang?”
  4. “Bagaimana kalau penyakit datang?”
  5. “Bagaimana kalau masa depan saya tidak seperti yang saya harapkan?”

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita tidak harus mempunyai jawaban atas semua pertanyaan itu untuk dapat berharap.


C. Makna Alkitabiah

Alkitab tidak mengajarkan manusia untuk menyangkal pergumulan. Daud pernah takut. Elia pernah mengalami kelelahan. Yeremia pernah menangis. Petrus pernah gagal. Namun mereka belajar bahwa Tuhan tetap hadir di tengah pergumulan manusia.

Iman bukan berkata: “Saya tidak punya masalah.”  tapi  Iman berkata: “Saya punya masalah, tetapi saya tidak menghadapinya sendirian.”


D. Makna Filosofis

Manusia sering menginginkan kepastian sebelum merasa tenang. Padahal kehidupan tidak pernah memberikan kepastian mutlak.

Kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Yang dapat kita lakukan adalah menjalani hari ini dengan bijaksana. Karena itu, kedewasaan bukan berarti mengetahui semua jawaban, melainkan mampu hidup dengan ketidakpastian sambil tetap mempunyai pengharapan.


E. Makna Rohaniah

Kegelisahan terbesar bukan selalu karena masalah terlalu besar. Kadang-kadang karena pandangan kita terhadap masalah lebih besar daripada pandangan kita terhadap Tuhan.

Ketika masalah menjadi pusat perhatian, hati menjadi gelisah. Ketika Tuhan kembali menjadi pusat kehidupan, muncul pengharapan.


F. Ilustrasi

Bayangkan seseorang berjalan pada malam hari di jalan yang gelap. Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya. Tetapi ia membawa lampu.

Lampu tidak menerangi seluruh perjalanan sampai tujuan. Lampu hanya menerangi beberapa meter di depannya. Namun ia tetap berjalan.

Demikian pula iman. Tuhan tidak selalu memperlihatkan seluruh masa depan kita. Tetapi Tuhan memberikan terang yang cukup untuk melangkah hari ini.


G. Implikasi bagi Jemaat

  1. Jangan malu mengakui ketika hati sedang lelah.
  2. Jangan menghadapi masalah sendirian.
  3. Belajar membawa kegelisahan dalam doa.
  4. Jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang dikuasai kepanikan.
  5. Bangun kehidupan jemaat yang menjadi tempat orang dapat bercerita dan didengarkan.
  6. Orang tua perlu belajar mendengarkan kegelisahan anak.
  7. Remaja perlu mengetahui bahwa meminta pertolongan bukan tanda kelemahan.


H. Pertanyaan Refleksi

  • Apa yang paling membuat saya gelisah akhir-akhir ini?
  • Apakah saya lebih sering memikirkan masalah daripada Tuhan?
  • Kepada siapa saya biasanya menceritakan pergumulan?
  • Apa yang dapat saya serahkan kepada Tuhan hari ini?


I. Kesimpulan

Kegelisahan adalah bagian dari pengalaman manusia. Tetapi kegelisahan tidak boleh menjadi penguasa kehidupan kita. Ketika hati berkata, “Aku takut,” iman menjawab: “Aku tetap berharap kepada Tuhan.”


J. Doa

Tuhan, ketika hati kami gelisah, ajarlah kami untuk tetap berharap kepada-Mu. Berikan kami kekuatan untuk menghadapi hari ini dan iman untuk mempercayakan hari esok kepada-Mu. Amin.


Friday, July 31, 2026

UPP Profesional PNS dan Non PNS Menghidupi Iman dalam Profesi melalui Ibadah Bulan Juli 2026

Maumere, 31 Juli 2026 – UPP Profesional PNS dan Non PNS melaksanakan ibadah bulanan pada Jumat, 31 Juli 2026, pukul 17.00 WITA, bertempat di kediaman Bapak Yunus Saban di Rayon Lokaria. Ibadah berlangsung dalam suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan kekeluargaan serta dipimpin oleh Bapak Pendeta Melkianus Balla, S.Th.

Dalam renungannya yang diambil dari Mazmur 119:105, "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku," Bapak Pendeta Melkianus Balla, S.Th mengangkat tema "Firman Tuhan Menjadi Benih Awal Pendidikan dan Pertumbuhan Iman Kristen."

Beliau menjelaskan bahwa firman Tuhan adalah pelita bagi kaki, yang berarti memberikan terang dalam setiap langkah kehidupan manusia. Pelita tidak hanya menerangi jalan yang akan ditempuh, tetapi juga menerangi hati dan pikiran sehingga setiap orang percaya mampu membedakan yang benar dan yang salah dalam setiap keputusan hidup.

Lebih lanjut disampaikan bahwa firman Tuhan yang terus diresapi melalui kebiasaan membaca, merenungkan, dan menghidupinya setiap hari akan menjadi dasar iman yang kokoh. Firman Tuhan memiliki kuasa untuk menjaga setiap orang percaya agar tidak tersesat, tidak mudah jatuh ke dalam dosa, serta terhindar dari rasa malu akibat pilihan hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Dengan firman Tuhan sebagai pedoman hidup, orang percaya juga tidak mudah digoyahkan oleh berbagai cobaan dan tantangan yang menghadang perjalanan hidupnya.

Bapak Pendeta Melkianus Balla juga menegaskan bahwa firman Tuhan merupakan sumber hikmat yang membentuk karakter manusia. Semakin seseorang mencintai dan menghidupi firman Tuhan, semakin ia bertumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, berakal budi, serta mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dengan iman, keteguhan, dan kebijaksanaan yang berasal dari Allah.

Makna Rohaniah

Mazmur 119:105 mengajarkan bahwa pertumbuhan iman Kristen dimulai dari hati yang terus dibentuk oleh firman Tuhan. Firman Allah adalah benih kehidupan rohani yang menghasilkan karakter Kristus dalam diri orang percaya. Ketika benih itu dipelihara melalui doa, pembacaan Alkitab, perenungan, dan ketaatan, iman akan bertumbuh menjadi dewasa serta menghasilkan kehidupan yang penuh kasih, hikmat, kesetiaan, dan pengharapan.

Firman Tuhan juga menjadi kompas rohani yang menuntun umat untuk tetap berjalan di jalan kebenaran di tengah dunia yang penuh tantangan dan godaan. Oleh karena itu, setiap anggota UPP Profesional PNS dan Non PNS dipanggil untuk menjadikan firman Tuhan sebagai landasan dalam bekerja, melayani, mengambil keputusan, serta menjadi teladan di lingkungan keluarga, gereja, masyarakat, dan tempat kerja.

Usai ibadah, Ketua UPP Profesional, Bapak John Anderson Repi, menyampaikan penjelasan mengenai beberapa program kerja UPP Profesional Tahun Pelayanan 2026 yang akan segera dilaksanakan. Di antara program prioritas tersebut adalah pemeriksaan kesehatan dan kegiatan donor darah sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan anggota sekaligus bentuk pelayanan kasih kepada sesama. Beliau mengajak seluruh anggota UPP Profesional untuk berpartisipasi aktif dan mendukung setiap program yang telah direncanakan agar dapat terlaksana dengan baik serta memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat.

Rangkaian ibadah kemudian diakhiri dengan ramah tamah sederhana yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban, kekeluargaan, dan sukacita. Momen tersebut menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan, membangun komunikasi yang semakin baik antaranggota, serta memperkokoh semangat kebersamaan dalam melaksanakan pelayanan. Diharapkan melalui persekutuan ini, seluruh anggota UPP Profesional PNS dan Non PNS semakin bertumbuh dalam iman, setia menghidupi firman Tuhan, dan terus menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan, pekerjaan, dan pengabdian kepada gereja, masyarakat, serta bangsa.

Saturday, July 25, 2026

KETIKA PEKERJAAN MENJADI IBADAH

 Bacaan Alkitab: Kolose 3:22–24

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya." (Kolose 3:23–24)

Pendahuluan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,

Ketika kita bertanya, "Apa pekerjaan saya?", sebagian orang akan menjawab: guru, pegawai negeri, tenaga kesehatan, polisi, petani, pengusaha, teknisi, atau pensiunan. Namun jika pertanyaannya diubah menjadi, "Untuk siapa Anda bekerja?", kebanyakan akan menjawab: untuk keluarga, untuk gaji, untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau untuk instansi tempat bekerja.

Rasul Paulus mengajak kita melihat pekerjaan dari sudut pandang yang berbeda. Ia berkata, "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan." Dengan kata lain, pekerjaan bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan kesempatan untuk memuliakan Allah.

Di tengah masyarakat yang sering mengukur keberhasilan dari jabatan, kekayaan, atau popularitas, Firman Tuhan mengingatkan bahwa nilai sejati pekerjaan bukan pertama-tama terletak pada hasilnya, tetapi pada kesetiaan dan motivasi hati. Pekerjaan yang dilakukan dengan kasih, kejujuran, dan tanggung jawab dapat menjadi bentuk ibadah yang hidup kepada Tuhan.

Isi Renungan

1. Makna Alkitabiah: Bekerja adalah Panggilan Allah

Surat Kolose ditulis kepada jemaat yang hidup dalam struktur sosial Romawi. Paulus berbicara kepada orang-orang yang menjalankan pekerjaan sehari-hari dan mengarahkan mereka agar bekerja bukan hanya demi menyenangkan manusia, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada Kristus.

Dalam Alkitab, bekerja bukanlah akibat dosa. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah telah memberi tugas kepada Adam untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kejadian 2:15). Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah bagian dari rancangan Allah bagi manusia.

Setelah kejatuhan ke dalam dosa, pekerjaan menjadi lebih berat karena manusia harus bergumul dengan jerih payah (Kejadian 3:17–19). Namun, makna bekerja sebagai panggilan tetap tidak berubah. Allah memanggil manusia untuk mengelola ciptaan-Nya dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, pekerjaan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah.

2. Makna Filosofis: Pekerjaan Membentuk Jati Diri

Filsafat mengajarkan bahwa manusia tidak hanya dikenal dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari apa yang dikerjakannya.

Seseorang dapat memperoleh kekayaan melalui pekerjaannya, tetapi yang lebih penting adalah bahwa pekerjaan membentuk karakter.

Pekerjaan mengajarkan, disiplin, tanggung jawab, kesabaran, kreativitas, kerja sama, pengorbanan. Bahkan ketika hasil pekerjaan tidak selalu sempurna, proses bekerja membentuk pribadi menjadi lebih dewasa.

Dalam perspektif ini, pekerjaan bukan hanya menghasilkan sesuatu, tetapi juga membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.

3. Makna Rohaniah: Pekerjaan Menjadi Penyembahan

Sering kali kita membatasi ibadah hanya pada kegiatan di gereja: seperti  bernyanyi, berdoa, membaca Alkitab, melayani liturgi.  Padahal Alkitab mengajarkan bahwa seluruh hidup orang percaya adalah persembahan kepada Allah.

Guru yang mengajar dengan kasih sedang memuliakan Tuhan, Dokter yang melayani pasien dengan tulus sedang beribadah. Petani yang bekerja jujur sedang memuliakan Allah. Pegawai yang menolak korupsi sedang mempersembahkan ibadah kepada Tuhan. Pengacara yang membela klien dengan jujur sedang beribadah, Pengusaha yang memperlakukan karyawan dengan adil sedang menjadi saksi Kristus.

Dengan demikian, kantor, sekolah, sawah, bengkel, rumah sakit, pasar, bahkan rumah tangga dapat menjadi "altar" tempat kita mempersembahkan hidup kepada Allah.

Implikasi dalam Kehidupan Jemaat

Bagi anggota UPP Profesional, firman ini sangat relevan.

Pertama, jadilah profesional yang berintegritas. Kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab adalah bentuk kesaksian iman.

Kedua, jangan memisahkan iman dan pekerjaan. Iman tidak hanya dihidupi pada hari Minggu, tetapi juga pada hari Senin hingga Sabtu.

Ketiga, lihat pekerjaan sebagai kesempatan melayani. Setiap profesi memberi ruang untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan bagi orang lain.

Keempat, hindari bekerja hanya demi pujian atau keuntungan pribadi. Jika motivasi utama kita adalah memuliakan Tuhan, maka kita akan tetap setia sekalipun tidak selalu mendapat penghargaan dari manusia.

Kelima, jadilah teladan bagi generasi muda. Di tengah budaya instan dan pencarian popularitas, orang Kristen dipanggil menunjukkan bahwa kerja keras, kejujuran, dan kesetiaan memiliki nilai yang tidak lekang oleh waktu.

Pertanyaan Refleksi

  1. Untuk siapa saya sebenarnya bekerja: demi manusia, demi penghasilan, atau demi Tuhan?
  2. Apakah pekerjaan saya mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kejujuran, kasih, dan tanggung jawab?
  3. Adakah kebiasaan dalam pekerjaan saya yang perlu diubah agar lebih memuliakan Tuhan?
  4. Jika rekan kerja menilai iman saya hanya dari cara saya bekerja, kesaksian apa yang akan mereka lihat?
  5. Bagaimana profesi yang Tuhan percayakan kepada saya dapat menjadi sarana melayani sesama?

Kesimpulan

Kolose 3:22–24 mengingatkan bahwa pekerjaan bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan panggilan Allah yang harus dijalani dengan sepenuh hati. Secara alkitabiah, bekerja adalah mandat Allah sejak penciptaan untuk mengelola dunia dengan setia. Secara filosofis, pekerjaan membentuk karakter dan mengungkapkan jati diri seseorang. Secara rohaniah, pekerjaan menjadi ibadah ketika dilakukan dengan motivasi untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Marilah kita memandang setiap ruang kerja sebagai tempat kesaksian, setiap tugas sebagai kesempatan melayani, dan setiap keberhasilan sebagai anugerah yang dipersembahkan kembali kepada Allah. Dengan demikian, gereja tidak hanya hadir di dalam gedung ibadah, tetapi juga melalui kehidupan para profesional Kristen yang menjadi garam dan terang di kantor, sekolah, rumah sakit, kebun, pasar, dan di tengah masyarakat.


Friday, June 19, 2026

UPP Profesional Gabungan GMIT Kalvari Maumere Gelar Ibadah dengan Tema “Berakar Kuat di Tengah Proses Kehidupan

 

Maumere, 19 Juni 2026 – Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Profesional Gabungan GMIT Kalvari Maumere yang terdiri dari unsur PNS/Non PNS, TNI, POLRI, dan Wiraswasta melaksanakan ibadah bersama pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 19.00 WITA bertempat di rumah keluarga Bapak Desikus Neno, Rayon Manunai.

Ibadah dipimpin oleh Pdt. Yeni Sofiany Isliko, S.Si. dengan pembacaan Alkitab yang terambil dari Kolose 2:6-10. Tema yang diangkat dalam ibadah tersebut adalah “Berakar Kuat di Tengah Proses Kehidupan.”

Dalam khotbahnya, Pdt. Yeni Sofiany Isliko, S.Si.. menegaskan bahwa kehidupan yang dijalani setiap orang merupakan sebuah proses yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan iman kepada Tuhan. Tidak ada keberhasilan, pertumbuhan, maupun kedewasaan yang diperoleh secara instan. Sebagaimana sebuah pohon memerlukan waktu untuk bertumbuh dan berakar kuat, demikian pula kehidupan orang percaya membutuhkan proses yang dibentuk oleh Tuhan.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan beberapa pokok penting sebagai pedoman hidup orang percaya. Pertama, Yesus Kristus harus menjadi pusat kehidupan, sehingga setiap langkah dan keputusan yang diambil tidak lagi didasarkan pada kehendak manusia semata, melainkan pada kehendak Tuhan. Ketika Kristus menjadi pusat kehidupan, maka arah hidup akan selalu berada dalam tuntunan-Nya.

Kedua, orang percaya dipanggil untuk berakar dan dibangun dalam Kristus melalui setiap proses kehidupan. Proses yang dialami, baik suka maupun duka, keberhasilan maupun tantangan, merupakan sarana yang dipakai Tuhan untuk membentuk karakter dan iman umat-Nya agar semakin dewasa.

Ketiga, Yesus adalah dasar kehidupan yang kokoh. Di tengah berbagai perubahan dan ketidakpastian dunia, hanya Kristus yang menjadi fondasi yang tidak tergoncangkan. Oleh karena itu, setiap orang percaya perlu membangun hidupnya di atas dasar yang benar, yaitu firman dan kasih Kristus.

Keempat, Yesus adalah sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan. Manusia memiliki keterbatasan, tetapi melalui persekutuan dengan Kristus, umat percaya memperoleh kekuatan untuk menghadapi setiap pergumulan, tantangan pekerjaan, pelayanan, keluarga, maupun kehidupan sosial.

Ibadah berlangsung dalam suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan penguatan iman. Kehadiran anggota UPP Profesional dari berbagai unsur profesi menjadi wujud nyata persekutuan dan kolaborasi pelayanan yang terus dibangun dalam jemaat GMIT Kalvari Maumere.

Melalui ibadah gabungan ini, seluruh peserta diajak untuk terus bertumbuh dalam iman, tetap setia menjalani setiap proses kehidupan, serta menjadikan Kristus sebagai pusat, dasar, dan sumber kekuatan dalam seluruh aspek kehidupan dan pekerjaan.

“Pohon yang kuat bukanlah pohon yang tumbuh dalam sehari, melainkan pohon yang tetap bertahan melewati musim demi musim. Demikian juga iman kita; bukan dibentuk oleh jalan yang mudah, tetapi oleh kesetiaan berjalan bersama Kristus dalam setiap proses kehidupan. Tetaplah berakar dalam Dia, sebab akar yang kuat akan menghasilkan kehidupan yang kokoh dan berbuah bagi kemuliaan Tuhan.”.

Friday, March 27, 2026

Ibadah Profesional PNS dan Non-PNS: Refleksi Menjadi Manusia Baru dan Komitmen Pelayanan 2026


Maumere, 27 Maret 2026 — Ibadah Profesional bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Non-PNS kembali dilaksanakan pada Jumat, 27 Maret 2026, bertempat di Gereja Kalvari Maumere, mulai pukul 17.00 WITA. Ibadah ini dipimpin oleh Ibu Pendeta Marthni Sarnita J. Benu,S.Si-Teol. dengan mengangkat tema renungan “Manusia Baru” yang diambil dari Kitab Kolose 3:12-13.

Dalam suasana ibadah yang penuh hikmat, jemaat diajak untuk merenungkan panggilan hidup sebagai manusia baru di dalam Kristus. Pendeta Marthni Sarnita J. Benu,S.Si-Teol. dalam khotbahnya menyoroti fenomena sosial yang akhir-akhir ini marak terjadi, khususnya kasus-kasus kekerasan bahkan pembunuhan yang banyak beredar di media sosial. Ia mencontohkan peristiwa tragis di mana seorang istri dibunuh oleh suaminya sendiri, yang mencerminkan krisis kasih dan pengampunan dalam kehidupan manusia.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa pengampunan bukanlah hal yang mudah, terutama ketika seseorang harus menghadapi luka yang mendalam, baik secara pribadi maupun dalam lingkup keluarga. “Sering kali kita diminta untuk mengampuni, tetapi dalam kenyataannya, kita masih menyimpan luka dan bahkan tanpa sadar menikmati penderitaan orang lain,” ungkapnya dengan penuh keprihatinan.

Melalui firman Tuhan dari Kolose 3:12-13, jemaat diingatkan untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sebagai manusia baru, setiap orang percaya dipanggil untuk saling mengampuni sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengampuni.

Di akhir ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan program kerja UPP Profesional tahun 2026 yang dipimpin oleh Penatua John A. Repi. Dalam diskusi tersebut, dibicarakan beberapa program utama yang akan dilaksanakan, yaitu:

  1. Koinonia: Pelaksanaan ibadah bulanan sebagai sarana mempererat persekutuan dan pertumbuhan iman jemaat. Ibadah ini akan dilaksanakan setiap bulan, dan secara khusus pada bulan kedua akan dilaksanakan secara gabungan bersama UPP Wiraswasta serta UPP TNI/Polri.
  2. Marturia: Kegiatan sosial berupa donor darah serta pembagian vitamin sebagai wujud kesaksian iman melalui aksi nyata bagi sesama, yang direncanakan pelaksanaannya pada bulan April 2026.
  3. Pelayanan Kesehatan: Jalan sehat bersama yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi jemaat dan masyarakat, yang direncanakan pada bulan Juni 2026.

Selain itu, forum juga membahas strategi untuk meningkatkan partisipasi seluruh pengurus dan anggota UPP Profesional dalam mendukung dan melaksanakan program kerja tersebut. Ditekankan pentingnya komitmen bersama, komunikasi yang efektif, serta pembagian tugas yang jelas agar setiap program dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

Ibadah ini tidak hanya menjadi momen refleksi iman, tetapi juga wadah konsolidasi pelayanan, sehingga seluruh anggota UPP Profesional dapat semakin solid dalam melaksanakan panggilan pelayanan di tengah jemaat dan masyarakat sepanjang tahun 2026.







Saturday, December 20, 2025

Ketika Mekanisme Tak Lagi Terbaca: Catatan atas Penetapan Ketua Majelis Jemaat Antar Waktu

 Oleh: BPPPJ Jemaat Kalvari Maumere

Gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk hidup dalam keteraturan, keterbukaan, dan semangat kebersamaan. Dalam kerangka itulah Badan Pertimbangan dan Pengawasan Pelayanan Jemaat (BPPPJ) Jemaat Kalvari Maumere pada 15 Desember 2025 menyampaikan Surat Keberatan Nomor 15/BPPPJ/XII/2025 kepada Majelis Sinode Harian GMIT terkait penetapan Ketua Majelis Jemaat Kalvari Maumere Antar Waktu Periode 2024–2027.

Surat tersebut bukan lahir dari sikap menentang otoritas sinodal, melainkan dari kepedulian terhadap tertib gereja dan kualitas pelayanan jemaat. Sebab, dalam dinamika gereja sinodal, suara jemaat bukanlah gangguan, tetapi bagian dari proses pendewasaan bersama.

Ketika Pola yang Dikenal Tiba-tiba Berubah

Selama ini, jemaat memahami bahwa ketika terjadi mutasi pendeta, Ketua Majelis Jemaat Antar Waktu ditetapkan dari pendeta yang masih aktif melayani dan tinggal di jemaat. Pola ini telah berlangsung dalam beberapa periode pelayanan di Jemaat Kalvari Maumere dan menjadi rujukan praktis yang dipahami bersama.

Namun, pada penetapan terbaru, pola tersebut tidak lagi diikuti, meskipun masih terdapat pendeta yang aktif melayani di jemaat. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan wajar: mekanisme apa yang sedang dipakai? Dan mengapa berbeda dari praktik yang selama ini dikenal?

Dampak yang Tak Sekadar Administratif

Keputusan tentang kepemimpinan jemaat tidak pernah netral. Ia selalu membawa dampak pastoral. Ketika pendeta yang masih aktif melayani tidak dipertimbangkan, muncul persepsi—benar atau tidak—bahwa ada persoalan dalam pelayanan yang bersangkutan. Persepsi seperti ini, jika dibiarkan, dapat memengaruhi martabat pelayanan dan relasi pendeta dengan jemaat.

Lebih dari itu, jemaat dapat mengalami kebingungan administratif dan kegelisahan pastoral. Pelayanan gereja pun berisiko berjalan tanpa ketenangan dan kejelasan arah.

Soal Komunikasi yang Terlewat

Hal lain yang mengusik rasa kebersamaan adalah minimnya komunikasi. Dalam praktik sebelumnya, mutasi pendeta dan perubahan kepemimpinan jemaat selalu diawali dengan percakapan atau pemberitahuan kepada Majelis Jemaat. Kali ini, proses tersebut nyaris tidak terjadi.

Padahal, gereja sinodal bertumbuh justru melalui dialog, bukan keputusan sepihak. Ketika komunikasi terputus, kepercayaan pun mudah terganggu.

Aturan yang Tak Terlihat

Persoalan mendasar lainnya adalah ketiadaan akses jemaat terhadap aturan normatif GMIT tentang pengangkatan Ketua Majelis Jemaat. Hingga kini, dokumen tersebut tidak tersedia di lingkup jemaat dan tidak pernah disosialisasikan kepada pendeta.

Akibatnya, jemaat dan pendeta hanya bisa membaca keputusan berdasarkan praktik yang selama ini berjalan. Ketika praktik itu berubah tanpa penjelasan normatif yang terbuka, wajar jika muncul tanda tanya dan kegelisahan.

Aturan gereja seharusnya menjadi terang, bukan teka-teki.

Gereja yang Belajar Mendengar

Keberatan dan catatan kritis yang disampaikan BPPPJ Jemaat Kalvari Maumere hendaknya dibaca sebagai undangan untuk berdialog. Gereja yang sehat bukan gereja tanpa perbedaan pendapat, melainkan gereja yang mampu mengelola perbedaan dengan kasih, hikmat, dan keterbukaan.

Penetapan Ketua Majelis Jemaat bukan semata soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dibangun di atas kejelasan norma, etika pelayanan, dan penghormatan terhadap jemaat.

Refleksi Firman Tuhan

Alkitab mengingatkan gereja untuk berjalan dalam terang, keteraturan, dan hikmat bersama:

“Sebab Allah bukanlah Allah kekacauan, melainkan Allah damai sejahtera.”
(1 Korintus 14:33)

Dan juga:

“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau banyak penasihat.”
(Amsal 20:18)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan gereja seharusnya dibangun dalam semangat damai sejahtera, keterbukaan, dan musyawarah, bukan kebingungan dan ketertutupan.

Kiranya melalui peristiwa ini, GMIT semakin meneguhkan diri sebagai gereja sinodal yang mau mendengar, menjelaskan, dan berjalan bersama, demi kemuliaan nama Tuhan dan damai sejahtera seluruh jemaat.