Bacaan Alkitab : Mazmur 42:2–3
Tema: “Datang ke gereja bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi
menghadap Tuhan dengan hati yang rindu kepada-Nya.”
A Pendahuluan: Apa tujuan kita pergi ke gereja?
Hari ini kita pergi ke gereja atau kita datang
menghadap Tuhan? Secara
fisik, keduanya mungkin terlihat sama. Kita bangun, mandi, berpakaian, lalu
berjalan atau berkendaraan menuju gereja. Kita duduk di bangku yang sama,
mengikuti liturgi, menyanyi, berdoa dan mendengarkan firman.Tetapi
ada perbedaan yang sangat mendalam: Pergi ke gereja berbicara tentang tempat yang kita
datangi. Menghadap Tuhan berbicara tentang Pribadi yang kita cari. Seseorang
dapat pergi ke gereja tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Sebaliknya, orang yang
sungguh-sungguh menghadap Tuhan datang dengan kerinduan, penghormatan,
pertobatan dan kesiapan untuk mendengar firman-Nya.
B. Pergi ke gereja dapat menjadi rutinitas
Ada
bahaya ketika ibadah berubah menjadi kebiasaan semata. Kita
mungkin berpikir:
- Hari Minggu memang waktunya
ke gereja;
- Saya sudah biasa pergi
gereja;
- Kalau tidak pergi nanti
ditanya;
- Yang penting saya sudah
hadir;
- Saya sudah mengikuti ibadah,
berarti kewajiban saya selesai.
Pertanyaannya:
Apakah kehadiran tubuh kita di gereja selalu
berarti hati kita hadir di hadapan Tuhan? Kita
bisa hadir secara fisik, tetapi pikiran sibuk dengan pekerjaan, keluarga,
masalah ekonomi, konflik, telepon genggam, atau persoalan lainnya. Karena
itu, kehadiran di gereja belum tentu sama
dengan perjumpaan dengan Tuhan.
C. Menghadap Tuhan berarti datang dengan hati
yang rindu
Mazmur
42:2–3 menggambarkan kerinduan yang sangat dalam kepada Allah. Pemazmur
tidak sekadar ingin datang ke sebuah tempat. Ia merindukan Allah sendiri.
Inilah
inti ibadah: Kita bukan terutama mencari gedung gereja,
suasana ibadah, musik, khotbah atau pertemuan dengan sesama; kita datang karena
kita membutuhkan Tuhan. Orang
yang menghadap Tuhan berkata dalam hatinya: “Tuhan, saya datang karena saya membutuhkan-Mu.”
- Ketika
hati sedang gelisah, kita datang kepada Tuhan.
- Ketika
hidup terasa berat, kita datang kepada Tuhan.
- Ketika
bersukacita, kita datang mengucap syukur kepada Tuhan.
- Ketika
berdosa, kita datang memohon pengampunan.
- Ketika
tidak tahu jalan hidup, kita datang meminta petunjuk Tuhan.
D. Apa perbedaan “pergi ke gereja” dan “menghadap
Tuhan”?
|
Pergi
ke gereja
|
Menghadap
Tuhan
|
|
Fokus pada tempat
|
Fokus pada Tuhan
|
|
Bisa menjadi
rutinitas
|
Menjadi kerinduan
|
|
Tubuh hadir
|
Tubuh dan hati
hadir
|
|
Sekadar mengikuti
liturgi
|
Menghayati ibadah
|
|
Mendengar firman
|
Membuka hati
terhadap firman
|
|
Pulang seperti
biasa
|
Pulang dengan
perubahan
|
|
Gereja menjadi
tujuan
|
Tuhan menjadi
tujuan
|
Pertanyaan
penting bagi jemaat:
“Setelah saya beribadah, apakah saya hanya pulang
dari gereja, atau saya pulang dengan membawa Tuhan dalam kehidupan saya?”
E. Menghadap Tuhan menuntut kesiapan hati
Sebelum
masuk gereja, kita perlu mempersiapkan bukan hanya pakaian, tetapi juga hati.
Ada
tiga sikap penting:
a. Hati yang rindu
Ya Tuhan, saya ingin berjumpa dengan-Mu
b. Hati yang terbuka
Ya Tuhan, berbicaralah melalui firman-Mu.
c. Hati yang siap berubah
Ya Tuhan, tunjukkan apa yang harus saya perbaiki.”
Dengan
demikian, ibadah bukan hanya kegiatan satu atau dua jam, tetapi menjadi perjumpaan yang memengaruhi seluruh kehidupan.
F. Gereja adalah tempat persekutuan, tetapi
Tuhanlah pusat ibadah
Jangan
sampai kita datang ke gereja hanya karena:
- ingin bertemu teman;
- mengikuti kebiasaan keluarga;
- menjalankan kewajiban;
- takut mendapat teguran;
- mencari kenyamanan;
- atau sekadar memenuhi daftar
kehadiran.
Semua
itu tidak salah pada dirinya sendiri. Namun semuanya tidak boleh menggantikan tujuan utama, yaitu beribadah
dan menghadap Tuhan.
Gereja adalah tempat kita berkumpul, tetapi Tuhan
adalah pusat yang kita sembah.
G. Bagaimana seharusnya kita datang ke gereja?
Renungan
dapat diarahkan pada 5 persiapan sebelum
ibadah:
- Datang dengan kerinduan – Saya ingin bertemu Tuhan
- Datang dengan ucapan syukur – mengingat kebaikan Tuhan.
- Datang dengan pertobatan – mengakui kesalahan dan
dosa.
- Datang dengan hati terbuka – siap mendengar firman.
- Datang dengan komitmen – siap melakukan firman
setelah pulang.
Dengan
demikian, kita tidak hanya bertanya:
“Apakah saya pergi ke gereja hari ini?”
Tetapi
bertanya:
“Apakah hari ini saya sungguh-sungguh menghadap
Tuhan?”
H. Implikasi dalam kehidupan jemaat
Jika
kita sungguh-sungguh memahami ibadah sebagai perjumpaan dengan Tuhan, maka
dampaknya harus terlihat setelah ibadah.
Orang yang menghadap Tuhan seharusnya pulang
dengan hati yang berbeda.
- Yang marah belajar mengampuni.
- Yang gelisah belajar percaya.
- Yang lemah memperoleh
kekuatan.
- Yang berdosa bertobat.
- Yang putus asa memperoleh
pengharapan.
- Yang sombong belajar
merendahkan diri.
- Yang mengalami berkat belajar
bersyukur.
- Yang memiliki kekurangan
belajar berharap kepada Tuhan.
- Yang memiliki kelebihan
belajar berbagi.
Jadi,
ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya
berapa banyak orang yang hadir, tetapi berapa banyak kehidupan yang disentuh
dan diubahkan oleh Tuhan.
I. Pertanyaan refleksi untuk jemaat
Akhiri
bagian renungan dengan beberapa pertanyaan yang hening dan personal:
Mengapa saya pergi ke gereja?
Apa yang sebenarnya saya cari ketika datang
beribadah?
Apakah tubuh saya hadir tetapi hati saya jauh
dari Tuhan?
Apakah saya sungguh mendengarkan ketika Tuhan
berbicara melalui firman-Nya?
Apakah setelah pulang dari gereja ada sesuatu
dalam hidup saya yang berubah?
Jika Tuhan melihat hati saya hari ini, apakah Dia
menemukan kerinduan kepada-Nya?
J. Penutup: Jangan hanya datang ke rumah Tuhan
Pesan
terakhir dapat dibuat kuat:
Jangan hanya pergi ke gereja.
Datanglah menghadap Tuhan.
Jangan
hanya membawa tubuh kita ke gereja, tetapi bawalah hati kita.
Jangan
hanya membuka buku nyanyian, tetapi bukalah hati kita.
Jangan
hanya mendengar khotbah, tetapi dengarkan suara Tuhan.
Jangan
hanya mengikuti ibadah, tetapi berjumpalah
dengan Tuhan.
Dan
ketika ibadah selesai, jangan tinggalkan Tuhan di gedung gereja.
Bawalah firman-Nya pulang ke rumah.
Bawalah kasih-Nya ke dalam keluarga.
Bawalah pengampunan-Nya kepada sesama.
Bawalah terang-Nya ke tempat kerja.
Sebab
pada akhirnya, pertanyaan Tuhan bukan hanya:
“Apakah engkau datang ke gereja?”
Tetapi:
“Apakah engkau datang kepada-Ku?”
Kesimpulannya adalah
“Pergi ke gereja adalah perjalanan kaki;
menghadap Tuhan adalah perjalanan hati.”
Dan: “Jangan
puas hanya dengan hadir di hadapan jemaat. Datanglah sungguh-sungguh ke hadapan
Tuhan.”