Friday, July 19, 2024

KASIH DAN BELAS KASIHAN

Bahan bacaan Alkitab terambil dari Yunus 2:2-4 (TB) dan Lukas 10:25-37 (TB)



Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita akan merenungkan dua bagian firman Tuhan yang memberikan pesan penting tentang kasih dan belas kasihan. Dari kitab Yunus 2:2-4 dan Lukas 10:25-37, kita akan belajar bagaimana kita dipanggil untuk menunjukkan kasih dan belas kasihan dalam kehidupan sehari-hari.


Isi Renungan


Yunus 2:2-4

Di dalam kitab Yunus, kita melihat Nabi Yunus berada dalam perut ikan besar, ia berseru kepada Tuhan dari kedalaman kesulitannya. Yunus berkata:

"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku. Dari dalam perut dunia orang mati aku berteriak, dan Engkau mendengar suaraku. Engkau telah melemparkan aku ke tempat yang dalam, ke tengah-tengah laut, lalu aku ditelan oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Aku berkata: Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?"

Di sini, kita melihat bagaimana Tuhan mendengar seruan Yunus dan menunjukkan belas kasihan-Nya meskipun Yunus melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tuhan mengingatkan kita bahwa tidak ada tempat yang terlalu jauh atau terlalu dalam di mana belas kasihan-Nya tidak dapat mencapai kita.


Lukas 10:25-37

Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat tentang siapa sesamanya dengan sebuah kisah. Seorang pria diserang oleh perampok dan ditinggalkan setengah mati di pinggir jalan. Beberapa orang lewat, termasuk seorang imam dan seorang Lewi, tetapi mereka tidak menolongnya. Namun, seorang Samaria, yang dianggap musuh oleh orang Yahudi, datang dan menunjukkan belas kasihan. Ia merawat luka-luka pria itu dan membawanya ke penginapan untuk dirawat lebih lanjut.

Yesus mengakhiri kisah itu dengan pertanyaan, "Siapa di antara mereka yang menjadi sesama dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Ahli Taurat menjawab, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Yesus berkata kepadanya, "Pergilah, dan perbuatlah demikian."

Dari riwayat Yunus kita menyaksikan Tuhan Yesus menunjukkan belas kasihan kepada manusia tanpa memandang kesalahan yang telah dibuat oleh Yunus . Yunus berseru kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkan permintaannya dan memberikan kepada yunus belas kasihan yang tulus. Sedangkan dalam kisah orang samaria yang murah hati mengajarkan kepada kita bagaima orang samaria memberikan belas kasihan kepada sesama tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial, ekonomi dan budaya. 

Refleksi Diri

Dari kedua bagian firman Tuhan ini, kita diajak untuk merenungkan beberapa hal:

  1. Apakah kita telah menunjukkan kasih dan belas kasihan seperti yang Tuhan inginkan? Yunus, meskipun dalam ketidaktaatannya, masih menerima belas kasihan Tuhan. Begitu juga, kita harus menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang mungkin telah menyakiti kita atau yang berbeda dari kita.
  2. Siapakah sesama kita? Seperti yang Yesus ajarkan, sesama kita bukan hanya orang yang kita kenal atau yang seiman dengan kita, tetapi juga mereka yang membutuhkan bantuan dan kasih, tanpa memandang latar belakang mereka.
  3. Bagaimana kita dapat menjadi seperti Orang Samaria yang baik hati? Apakah kita siap untuk keluar dari zona nyaman kita untuk membantu mereka yang sedang dalam kesulitan?


Penutup

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mari kita membawa pesan ini ke dalam hidup kita sehari-hari. Kasih dan belas kasihan adalah inti dari ajaran Kristus. Dengan menunjukkan kasih dan belas kasihan kepada orang lain, kita mencerminkan kasih Allah yang tanpa batas. Marilah kita berdoa agar Tuhan memberi kita hati yang peka dan tangan yang siap menolong, sehingga kita dapat menjadi saksi kasih-Nya di dunia ini. Amin

Wednesday, July 17, 2024

BENTENG KEKUATAN DI TENGAH BADAI KEHIDUPAN


Ayat Bacaan :  (Mazmur 46:2)

Pendahuluan

Saudara-saudari yang terkasih,

Mazmur 46:2 bagaikan oasis ketenangan di tengah gurun kehidupan yang penuh dengan tantangan. Ayat ini menyatakan, "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." Di tengah badai kehidupan yang menerjang, Mazmur ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah benteng kekuatan dan sumber pertolongan yang selalu setia.

Ketika Ayub mengalami musibah yang berat dalam hidupnya, ini merupakan cobaan yang sulit bagi Ayub. Bahkan secara manusia ia menjalani sendiri sebab semuanya meninggalkan dirinya termasuk istrinya. Namun Tuhan tidak pernah membiarkan Ayub, di tengah persoalan yang terjadi Yesus tetap menyertai Ayub, memberikan pertolongan bahkan memberkati serta memulihkannya. hingga akhirnya Ayub menyadari bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara dengan cara yang ajaib dan tidak ada rancanganNya yang gagal. Begitu pula dalam hidup ini ketika kita mengalami goncangan karena masalah dan tantangan seringkali membuat iman kita menjadi goyah dan menjadi tawar hati, tetapi setidaknya kita harus kuat dan teguh, karena Tuhan sanggup menolong kita. Mazmur 46:2 mengatakan bahwa Tuhan sebagai penolong dalam kesesakan sungguh sangat terbukti, karena Dia adalah Tuhan yang berkuasa. Jangan pernah meragukan akan kebesaran kuasa Tuhan .

Isi

Allah: Tempat Perlindungan dan Kekuatan (Mazmur 46:2)

Mazmur 46:2 menggambarkan Allah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan bagi umat-Nya. Kata "benteng" menunjukkan bahwa Allah adalah tempat yang aman dan kokoh di mana kita dapat berlindung dari bahaya dan kesulitan hidup. Kata "kekuatan" menunjukkan bahwa Allah memiliki kuasa yang tidak terbatas untuk menolong dan melindungi kita.

Penolong dalam Kesesakan (Mazmur 46:2)

Lebih dari sekadar tempat perlindungan, Allah adalah penolong yang selalu siap sedia dalam kesesakan. Kata "penolong" menunjukkan bahwa Allah aktif terlibat dalam kehidupan kita dan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesulitan. Kata "dalam kesesakan" menunjukkan bahwa Allah hadir dan bekerja bahkan di saat-saat tergelap dan tersulit dalam hidup kita.

Bukti Kesetiaan Allah (Mazmur 46:2)

Frasa "sangat terbukti" menunjukkan bahwa Allah telah berulang kali menunjukkan kesetiaan-Nya dalam menolong umat-Nya di masa lampau. Sejarah bangsa Israel penuh dengan bukti bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari bahaya dan memberikan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi kita bahwa Allah selalu dapat dipercaya untuk menolong kita dalam situasi apa pun.

Aplikasi

Saat Menghadapi Kesulitan: Ketika badai kehidupan menerjang, ingatlah bahwa Allah adalah benteng kekuatan dan sumber pertolongan yang selalu setia. Datanglah kepada-Nya dengan iman dan serahkanlah segala kekhawatiran Anda.

Mempercayai Janji Allah: Percayalah bahwa Allah selalu bersama Anda dan Dia akan menolong Anda melewati setiap kesulitan. Dia telah berulang kali menunjukkan kesetiaan-Nya di masa lampau, dan Dia akan terus melakukannya di masa depan.

Mencari Kekuatan dalam Doa: Doa adalah alat yang ampuh untuk menjalin hubungan dengan Allah dan menerima kekuatan dari-Nya. Luangkan waktu untuk berdoa setiap hari dan ungkapkan isi hati Anda kepada-Nya.

Penutup

Saudara-saudari, marilah kita menjadikan Mazmur 46:2 sebagai kompas hidup kita. Di tengah badai kehidupan, ingatlah bahwa Allah adalah benteng kekuatan dan sumber pertolongan yang selalu setia. Percayalah kepada-Nya, datanglah kepada-Nya dalam doa, dan rasakan kekuatan-Nya yang luar biasa dalam hidup Anda.

Kiranya firman Tuhan ini menjadi sumber kekuatan, pengharapan, dan sukacita bagi kita semua. Amin.


Tuesday, July 16, 2024

MERENDAHKAN DIRI DI HADAPAN TUHAN

Bahan bacaan terambil dari Kitab Yesaya 2 : 11-17 demikian bunyinya 

"Orang yang sombong akan ditundukkan, dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. Sebab hari TUHAN semesta alam akan menimpa segala yang congkak dan sombong dan menimpa segala yang ditinggikan sehingga direndahkan; menimpa segala pohon-pohon aras di Libanon yang tinggi menjulang dan menimpa segala pohon-pohon tarbantin di Basan; menimpa segala gunung yang tinggi-tinggi dan menimpa segala bukit yang menjulang ke atas; menimpa segala menara yang tinggi-tinggi dan menimpa segala tembok yang berkubu kuat; menimpa segala kapal Tarsis dan menimpa segala kapal yang paling indah. Keangkuhan manusia akan ditundukkan, dan orang yang tinggi hati akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu"

Pengantar

Manusia sering kali tergoda untuk membanggakan kekuatan, kekayaan, dan pencapaian mereka. Kita merasa aman ketika kita memiliki banyak harta, kedudukan yang tinggi, atau pengaruh yang besar. Namun, dalam ayat-ayat ini, nabi Yesaya mengingatkan kita bahwa semua kebanggaan dan keangkuhan manusia akan direndahkan oleh Tuhan pada akhirnya.

Isi Renungan

Yesaya 2:11-17 menggambarkan hari Tuhan yang penuh dengan penghakiman atas segala bentuk kesombongan dan keangkuhan manusia. Pada hari itu, Tuhan akan menunjukkan bahwa hanya Dia yang layak ditinggikan dan dipuji.

Ayat-ayat ini mengajarkan kita beberapa hal penting:

Kesombongan dan Keangkuhan Tidak Berkenan di Hadapan Tuhan: Tuhan membenci kesombongan dan keangkuhan karena hal itu menunjukkan ketidakpercayaan dan ketidakbergantungan pada-Nya. Manusia yang sombong sering kali merasa tidak membutuhkan Tuhan, padahal segala sesuatu yang mereka miliki adalah anugerah dari-Nya.

Mengapa kesombongan bisa dianggap begitu berdosa? Kesombongan berarti memberikan pujian dan penghargaan kepada diri kita sendiri untuk sesuatu yang Allah lakukan. Kesombongan berarti mencuri kemuliaan yang seharusnya diperuntukkan bagi Allah saja. Kesombongan pada dasarnya merupakan penyembahan terhadap diri sendiri. Apapun yang kita capai di dunia ini tidak akan mungkin terjadi jika bukan Allah yang memampukan dan memelihara kita.

Kesombongan yang berasal dari pembenaran diri adalah dosa, karena itu Allah mebenci hal tersebut karena menghalangi kita untuk mencarinya. Kesombongan telah menghalangi banyak orang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Mengakui dosa dan menyatakan kalau kita tidak sanggup melakukan apapun untuk mencapai hidup yang kekal dengan usaha kita sendiri akan mencegah kita untuk menjadi orang yang sombong.

Tuhan Akan Merendahkan yang Tinggi: Segala sesuatu yang manusia banggakan akan direndahkan. Ini termasuk kekuatan, kekayaan, dan kedudukan tinggi. Tuhan akan mengungkapkan kelemahan manusia dan menunjukkan bahwa hanya Dia yang maha kuasa.

Tuhan yang Maha Tinggi: Pada akhirnya, hanya Tuhan sajalah yang akan tetap tinggi dan berkuasa. Segala sesuatu yang lain akan hancur dan hilang, tetapi kekuasaan dan kemuliaan Tuhan akan tetap selama-lamanya.


Aplikasi dalam Kehidupan

Bagaimana kita menerapkan pelajaran dari Yesaya 2:11-17 dalam kehidupan kita sehari-hari?

Merendahkan Diri di Hadapan Tuhan: Sadarlah bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan. Jangan sombong dengan apa yang kita miliki atau capai. Sebaliknya, rendahkan diri di hadapan Tuhan dan bersyukur atas setiap berkat yang diberikan.

Bergantung pada Tuhan: Akuilah bahwa kita tidak bisa mengandalkan kekuatan atau kemampuan kita sendiri. Bergantunglah pada Tuhan dalam segala hal, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Menghormati dan Memuliakan Tuhan: Berikan pujian dan hormat hanya kepada Tuhan. Ingatlah bahwa hanya Tuhan yang layak ditinggikan dan dipuji.


Penutup

Yesaya 2:11-17 mengingatkan kita bahwa segala bentuk kesombongan dan keangkuhan akan direndahkan oleh Tuhan. Marilah kita belajar untuk selalu merendahkan diri di hadapan Tuhan, bergantung sepenuhnya kepada-Nya, dan memuliakan Dia dalam segala aspek kehidupan kita. Hanya Tuhan sajalah yang layak ditinggikan dan dipuji, sekarang dan selama-lamanya.


Amin.


Saturday, July 13, 2024

PENTINGNYA PERSAUDARAAN DAN NASIHAT YANG MENYELAMATKAN

  Matius 18:15-20 dengan Perikop : Tentang Menasihati sesama saudara



Pendahuluan:

Dalam Matius 18:15-20, Yesus memberikan panduan kepada para murid-Nya tentang cara menangani perselisihan dan dosa di antara sesama anggota jemaat dalam persekutuan gereja. Bagian ini menekankan pentingnya persaudaraan dan nasihat yang dilakukan dengan kasih untuk membangun kembali hubungan dan menyelamatkan jiwa.


Pengertian Nasehat

Nasehat dapat diartikan dalam pengertian :

Bimbingan: Kata ini mengandung makna memberikan arahan atau petunjuk untuk melakukan sesuatu. 

  • Pengarahan: memberikan petunjuk atau instruksi untuk mencapai suatu tujuan. 
  • Petunjuk:  memberikan informasi atau saran tentang cara melakukan sesuatu. 
  • Panduan: memberikan informasi atau saran yang dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu. 
  • Ajaran: memberikan pelajaran atau pengetahuan tentang suatu hal.
  • Wejangan: memberikan nasihat atau petunjuk yang bijaksana. 
  • Saran:  memberikan pendapat atau usulan tentang sesuatu. 
  • Peringatan: memberikan nasihat atau teguran untuk berhati-hati atau menghindari sesuatu. 

  • Isi Renungan


    1. Langkah Pertama: Teguran Pribadi (Matius 18:15)


    Yesus mengajarkan untuk menegur saudara yang berdosa secara pribadi terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan cara yang penuh kasih dan hormat, dengan tujuan untuk membantu mereka menyadari kesalahannya dan mendorong mereka untuk bertobat.


    2. Langkah Kedua: Mengajak Saksi (Matius 18:16)

    Jika teguran pribadi tidak berhasil, Yesus menyarankan untuk membawa satu atau dua orang saksi untuk membantu menyelesaikan masalah. Saksi-saksi ini haruslah orang yang terpercaya dan bijaksana yang dapat memberikan kesaksian yang obyektif dan membantu proses mediasi.

     

    3. Langkah Ketiga: Melibatkan Jemaat (Matius 18:17)


    Jika teguran dan nasihat dengan saksi pun tidak membuahkan hasil, maka Yesus memerintahkan untuk mengarahkan saudara yang berdosa agar kembali ke jalan yang benar. membawa masalah ini ke hadapan jemaat. Jemaat memiliki peran untuk menegur dan memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah benar dan adil.


    4. Tujuan Nasihat  Persaudaraan:

    Tujuan utama dari teguran/ nasihat  persaudaraan bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan jiwa saudara yang berdosa. Nasihat kembali ke jalan yang benar dan dipulihkan hubungannya dengan Tuhan dan sesama. ini dilakukan dengan kasih dan kepedulian, dengan harapan agar mereka  dapat kembali ke jalan yang benar dan dipulihkan hubungannya dengan Tuhan dan sesama.

    Penutup:


    Matius 18:15-20 memberikan panduan penting bagi umat Kristen tentang bagaimana diajarkan di sini menekankan pentingnya persaudaraan, kasih, dan komunikasi menangani perselisihan dan dosa di antara mereka. Prinsip-prinsip yang terbuka untuk membangun kembali hubungan dan menyelamatkan jiwa.

    Refleksi :

    1. Apakah saya sudah menerapkan langkah-langkah nasihat persaudaraan yang diajarkan Yesus dalam hidup saya?
    2. Bagaimana saya dapat menegur saudara yang berdosa dengan cara yang penuh kasih dan hormat?
    3. Apakah saya siap untuk menjadi saksi atau membantu menyelesaikan masalah saudara yang berdosa?


    Pertanyaan untuk Diskusi:

    1.  Apa saja tantangan yang dihadapi dalam menerapkan nasihat persaudaraan?
    2. Bagaimana peran jemaat dalam membantu menyelesaikan perselisihan dan dosa di antara anggotanya?
    3. Bagaimana kita dapat membangun persekutuan jemaat  yang saling mendukung dan penuh kasih?

    Doa:


    Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan nasihat yang Engkau ajarkan dalam hidup kami. Berikan kami keberanian dan kasih untuk menegur saudara yang berdosa dengan cara yang benar, serta mampukan kami untuk menjadi saksi dan pembawa damai dalam Gereja  kami. Amin.

    Sunday, July 7, 2024

    PERINTAH UNTUK MENGASIHI

     Pembacaan terambil dari Matius 22:34-40 dengan Perikop : "Hukum yang terutama"



    1. Kasih kepada Tuhan

    Tingkatan pertama dari kasih adalah kasih kepada Tuhan. Ini merupakan dasar dan sumber dari segala bentuk kasih lainnya. Mengasihi Tuhan berarti memberikan diri sepenuhnya kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai pusat kehidupan kitaKasih kepada Tuhan mencakup seluruh keberadaan kita dan diekspresikan dalam tiga aspek:
    • Hati: Mengasihi Tuhan dengan segenap hati berarti memberikan seluruh perasaan dan emosi kita kepada-Nya. Ini termasuk rasa syukur, pujian, dan penyembahan yang tulus kepada Tuhan.
    • Jiwa: Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa berarti melibatkan seluruh keberadaan dan kehidupan kita dalam melayani dan mengikuti Tuhan. Ini mencakup pengabdian dan komitmen kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
    • Akal Budi: Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi berarti menggunakan pikiran kita untuk mengenal, memahami, dan merenungkan firman Tuhan. Ini termasuk studi Alkitab, doa, dan refleksi spiritual yang mendalam.
    2. Kasih kepada Sesama
    Tingkatan kedua dari kasih adalah kasih kepada sesama manusia. Ini adalah manifestasi nyata dari kasih kita kepada Tuhan yang terwujud dalam tindakan sehari-hari kita terhadap orang lain. Mengasihi sesama berarti mencintai dan peduli kepada orang lain seperti kita mencintai diri sendiri. Berikut adalah beberapa cara untuk mengasihi sesama: Kasih kepada sesama mencakup:
    • Empati dan Pengertian: Berusaha memahami perasaan dan keadaan orang lain, serta menunjukkan kepedulian dan dukungan.
    • Mengampuni: Memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menyimpan dendam, seperti kita juga ingin dimaafkan.
    • Berbagi Berkat: Menjadi saluran berkat bagi orang lain, baik dalam bentuk bantuan materi maupun dukungan emosional dan spiritual.
    3. Kasih kepada Diri Sendiri
    Tingkatan ketiga dari kasih adalah kasih kepada diri sendiri, yang merupakan dasar untuk bisa mengasihi orang lain dengan benar. Mengasihi diri sendiri dengan cara yang sehat dan seimbang memungkinkan kita untuk lebih efektif dalam mengasihi Tuhan dan sesama. Kasih kepada diri sendiri mencakup:
    • Menghargai Diri: Mengakui nilai diri kita sebagai ciptaan Tuhan dan menghargai kehidupan yang telah Dia berikan kepada kita.
    • Merawat Diri: Menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual kita sehingga kita dapat melayani Tuhan dan sesama dengan lebih baik.
    • Pertumbuhan Pribadi: Berusaha untuk terus belajar, berkembang, dan menjadi pribadi yang lebih baik, yang mencerminkan karakter Kristus.

    Tuesday, February 13, 2024

    YESUS DIMULIAKAN

    Pembacaan terambil dari kitab  Markus 9 : 2 - 13 dengan perikop : Yesus dimuliakan di atas gunung 

    Ada 4 hal yang perlu kita renungkan yaitu :

    1. Yesus dimuliakan oleh Allah

    Peruahan wajah yesus. Di hadapan Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Yesus berubah rupa. Wajah-Nya bersinar dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilauan, melebihi apa yang dapat dicapai oleh manusia mana pun."Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan, tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu." (Markus 9:3) perubahan rupa ini adalah manifestasi langsung dari kemuliaan ilahi Yesus. Ini adalah pernyataan visual dari identitas-Nya sebagai Anak Allah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya seorang nabi atau guru, tetapi benar-benar adalah Allah yang hidup di antara manusia.

    Kehadiran Elia dan Musa. Kemuliaan Yesus juga terlihat dalam kehadiran Elia dan Musa, dua tokoh besar dalam sejarah Israel yang mewakili hukum dan para nabi. Mereka berbicara dengan Yesus, menunjukkan bahwa Yesus adalah penggenapan dari hukum dan nubuat. "Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus." (Markus 9:4). Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah pusat dari seluruh rencana keselamatan Allah. Semua yang diajarkan dalam hukum Taurat dan kitab para nabi mencapai puncaknya dalam diri Yesus.

    Suara dari Langit. Tuhan Bapa sendiri berbicara dari dalam awan, menegaskan identitas Yesus sebagai Anak yang dikasihi dan memerintahkan para murid untuk mendengarkan-Nya. "Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: 'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.'" (Markus 9:7). Suara ini mengukuhkan otoritas Yesus dan mengarahkan perhatian para murid (dan kita semua) untuk mengikuti ajaran dan petunjuk-Nya. Pengakuan ini adalah bentuk pemuliaan tertinggi, karena datang langsung dari Allah Bapa.

    2. Menyaksikan Kemuliaan Tuhan

    Dalam peristiwa di atas gunung, Petrus, Yakobus, dan Yohanes mendapat kehormatan untuk menyaksikan kemuliaan Tuhan secara langsung. Wajah Yesus berubah rupa, dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilauan. Peristiwa ini menunjukkan kemuliaan Yesus sebagai Anak Allah dan menegaskan identitas-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

    Dalam kehidupan kita, mungkin kita tidak akan mengalami peristiwa yang spektakuler seperti ini. Namun, kita tetap bisa menyaksikan kemuliaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari melalui kehadiran-Nya dalam doa, firman, dan karya-Nya di sekitar kita. Saat kita melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan, hati kita seharusnya dipenuhi dengan kekaguman dan syukur.

    3. Mendengarkan Suara Tuhan

    Saat awan menaungi mereka, terdengar suara dari dalam awan: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Suara ini menegaskan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang harus kita dengarkan dan ikuti. Mendengarkan suara Tuhan berarti membuka hati dan pikiran kita terhadap firman-Nya dan hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

    Dalam dunia yang penuh dengan berbagai suara dan gangguan, penting bagi kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ini berarti meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkan firman Tuhan. Hanya dengan mendengarkan suara-Nya kita dapat hidup dalam kebenaran dan mengalami damai sejahtera yang sejati.

    4. Memahami Penderitaan dan Kebangkitan

    Yesus berbicara tentang penderitaan dan kebangkitan-Nya kepada para murid. Dia mengingatkan mereka bahwa jalan menuju kemuliaan melibatkan penderitaan dan pengorbanan. Hal ini juga berlaku bagi kita sebagai pengikut Kristus. Kita diundang untuk mengikuti Yesus, yang berarti kita juga akan menghadapi tantangan dan penderitaan dalam hidup kita.

    Namun, penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Yesus telah bangkit dari kematian, dan melalui kebangkitan-Nya, kita memiliki harapan akan hidup yang kekal. Dalam penderitaan dan tantangan, kita dapat mengingat bahwa Tuhan bersama kita dan bahwa kita memiliki harapan yang pasti dalam kebangkitan-Nya.

    Sunday, February 4, 2024

    JANGAN BERJANJI KALAU AKHIRNYA INGKAR

     

    Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi.- Yesaya 24 : 5

    Orang Tua kita selalu mengingatkan saat kita sekolah dulu agar tidak berjanji kalau tak bisa menepatinya. Jangan berjanji pada siapa pun kalau akhirnya mengecewakan orang lain. Berjanji itu mudah, tapi menepatinya bagi banyak orang bisa jadi sulit. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang yang dengan cepat memberi janji tetapi kemudian mangkir dengan berbagai alasan. 

    Saat ini kita akan melaksanakan Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPD, DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota. Semua kandidat melakukan  banyak janji kepada masyarakat. Kita sebut saja oknum.Oknum-oknum yang berjanji akan melakukan ini dan itu kalau sudah terpilih. Ketika benar-benar sudah terpilih, janji tinggal janji. Si oknum yang berjanji tadi pura-pura lupa dengan janji manisnya. Ada saja alasan yang terlontar dari mulutnya. Selalu ada saja alasan yang mereka pakai sebagai pembenaran untuk melanggar janjinya. Apakah Anda merasa kesal apabila anda sudah menunggu lama tapi ternyata orang yang anda tunggu itu tidak jadi datang? 

    Berjanji dan mengucapkan janji itu jangan sembarangan walaupun di luar sana banyak juga orang yang berjanji tapi tak ditepati sama sekali. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Alasan bisa dicari belakangan. Sakit, kurang enak badan, urusan keluarga, mogok, mungkin menjadi alasan paling favorit bagi banyak orang untuk melanggar janjinya. 

    Bagi orang-orang percaya, perilaku ingkar janji tidak berbeda jauh dengan berbohong. Yesus berkata tegas: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya: “Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one.” Aturannya jelas. Jika kita sudah mengatakan ya, tepatilah, sebelum si jahat menemukan sebuah lahan bermain yang menyenangkan dalam diri kita dan kemudian membuat kita terus bertumbuh menjadi pembohong-pembohong kelas kakap yang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya. 

    Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah,yang mengacu kepada 10 Perintah Allah: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16). Pada kenyataannya, manusia terkadang begitu mudah bersumpah demi segala sesuatu, bahkan berani bersumpah dengan mengatasnamakan Tuhan untuk sesuatu kebohongan. 

    Menghormati Janji

    Ayat Alkitab dari Yehezkiel 17 : 19 menuliskan “Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH: Demi Aku yang hidup, Aku pasti menimpakan atas kepalanya sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di hadapan-Ku, yang diingkarinya.”

    Suatu ketika, seorang pemilik perusahaan sangat percaya dengan bawahannya yang ia kenal sejak lama berlaku jujur dalam menjalankan tugasnya. Tapi, suatu ketika bawahannya tadi menemui atasannya dan meminta tolong agar diberikan keringanan. Bawahan tadi berjanji akan mengembalikan uang yang ia pinjam pada atasannya satu bulan ke depannya. Tapi, bawahannya tadi ingkar janji dan tak menepati janjinya membayar pinjamannya pada atasan. 

    Sejak saat itu, atasannya jadi tidak percaya lagi dengan bawahannya. Sesungguhnya, atasannya hanya butuh kejujuran dari bawahannya agar berterus terang sebelum hari dan tanggal janji yang disampaikan. Akan tetapi bawahannya tadi justru diam saja dan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ada tanggungjawab dari si bawahan kepada atasan bahwa apa yang dijanjikannya belum bisa dipenuhi.

    Itu sebabnya, belajarlah sejak dini untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. 

    Tuhan Yesus mengajarkan kita, hendaklah kita mau menghormati janji dengan menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari si jahat. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. 

    Hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk berpesta pora menghancurkan segala yang sudah kita bangun dengan susah payah. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan juga sebuah dosa menjijikkan di hadapan Tuhan.

    Ada suatu kejadian dimana ada rapat majelis suatu gereja melakukan kesepakatan untuk menentukan pakaian apakah yang akan dikekanakan pada saat perhadapan kepada jemaat sebagai Pengurus Pelayanan Jemaat. Pada saat itu disepakati bahwa pakaian yang digunakan adalah kemeja putih dan rok/calana warna hitam tanpa Jas dengan alasan tidak semua anggota majelis memiliki setelan jas. Pada keesokan harinya saat perhadapan ada sebagian anggota majelis gereja yang mengingkari kesepakatan tersebut dan secara diam diam mengenakan jas tanpa alasan yang jelas. Ini adalah contoh ingkar janji yang walaupun  hal ini dianggap sangat remeh tapi masih ada orang yang sulit untuk menepatinya. Sebagai seorang majelis jemaat atau  tokoh jemaat ini adalah hal yang cukup mengusik, bagaimana mereka bisa dengan mudah melanggar kesepakatan atau janji yang telah dibuat sendiri.

    Jangan membiasakan diri berjanji tetapi tidak mau menepatinya. Kita bukanlah manusia lama tetapi manusia baru yang telah mengenakan Kristus. Maka sebaiknya kita bertindak hati-hati dan halus dalam bertutur kata karena kita meyakini segala ucapan kita bisa melukai hati kudus Kristus bahkan manusia itu sendiri.

    Di hari yang berbahagia ini, kita harus memulai hal kecil dengan tetap berpegang teguh pada janji-janji yang kita buat. Jangan berjanji kalau akhirnya ingkar janji. Amin.