Bacaan Alkitab : Mazmur 42:6
Tema: Ketika hati gelisah, jangan kehilangan Tuhan.A. Pendahuluan
Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Informasi datang setiap detik. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia hanya melalui telepon genggam. Namun, anehnya, semakin banyak informasi yang kita terima, semakin banyak pula hal yang membuat hati kita gelisah.
Remaja gelisah memikirkan sekolah,
pergaulan, penampilan dan masa depan. Orang tua gelisah memikirkan pekerjaan,
ekonomi dan masa depan anak-anak. Orang yang bekerja gelisah dengan tuntutan
pekerjaan. Orang yang sudah lanjut usia gelisah dengan kesehatan dan masa depan
keluarganya.
Ada satu kenyataan yang harus kita akui: orang beriman pun dapat mengalami kegelisahan. Pemazmur berkata:“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Perhatikan bahwa pemazmur tidak berpura-pura kuat. Ia mengakui keadaan jiwanya.
B. Tafsiran
Mazmur 42 menggambarkan seseorang yang sedang mengalami tekanan batin. Ia rindu kepada Tuhan, tetapi keadaan hidup membuatnya merasa jauh dan tertekan. Yang menarik adalah pemazmur berbicara kepada dirinya sendiri. Ia berkata kepada jiwanya:
“Berharaplah kepada Allah!”
Ini menunjukkan bahwa iman bukan
berarti tidak pernah merasa takut. Iman berarti ketika kita takut, kita
tetap mengarahkan hati kepada Tuhan.
Kegelisahan dapat memenuhi pikiran
kita dengan pertanyaan:
- “Bagaimana kalau saya gagal?”
- “Bagaimana kalau anak saya tidak berhasil?”
- “Bagaimana kalau pekerjaan saya hilang?”
- “Bagaimana kalau penyakit datang?”
- “Bagaimana kalau masa depan saya tidak seperti yang saya harapkan?”
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita
tidak harus mempunyai jawaban atas semua pertanyaan itu untuk dapat berharap.
C. Makna Alkitabiah
Alkitab tidak mengajarkan manusia untuk menyangkal pergumulan. Daud pernah takut. Elia pernah mengalami kelelahan. Yeremia pernah menangis. Petrus pernah gagal. Namun mereka belajar bahwa Tuhan tetap hadir di tengah pergumulan manusia.
Iman bukan berkata: “Saya tidak punya masalah.” tapi Iman berkata: “Saya punya masalah, tetapi saya tidak menghadapinya sendirian.”
D. Makna Filosofis
Manusia sering menginginkan kepastian sebelum merasa tenang. Padahal kehidupan tidak pernah memberikan kepastian mutlak.
Kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Yang dapat kita lakukan adalah menjalani hari ini dengan bijaksana. Karena itu, kedewasaan bukan berarti mengetahui semua jawaban, melainkan mampu hidup dengan ketidakpastian sambil tetap mempunyai pengharapan.
E. Makna Rohaniah
Kegelisahan terbesar bukan selalu karena masalah terlalu besar. Kadang-kadang karena pandangan kita terhadap masalah lebih besar daripada pandangan kita terhadap Tuhan.
Ketika masalah menjadi pusat perhatian, hati menjadi gelisah. Ketika Tuhan kembali menjadi pusat kehidupan, muncul pengharapan.
F. Ilustrasi
Bayangkan seseorang berjalan pada malam hari di jalan yang gelap. Ia tidak dapat melihat seluruh jalan di depannya. Tetapi ia membawa lampu.
Lampu tidak menerangi seluruh perjalanan sampai tujuan. Lampu hanya menerangi beberapa meter di depannya. Namun ia tetap berjalan.
Demikian pula iman. Tuhan tidak selalu memperlihatkan seluruh masa depan kita. Tetapi Tuhan memberikan terang yang cukup untuk melangkah hari ini.
G. Implikasi bagi Jemaat
- Jangan malu mengakui ketika hati sedang lelah.
- Jangan menghadapi masalah sendirian.
- Belajar membawa kegelisahan dalam doa.
- Jangan mengambil keputusan besar ketika hati sedang
dikuasai kepanikan.
- Bangun kehidupan jemaat yang menjadi tempat orang dapat
bercerita dan didengarkan.
- Orang tua perlu belajar mendengarkan kegelisahan anak.
- Remaja perlu mengetahui bahwa meminta pertolongan bukan
tanda kelemahan.
H. Pertanyaan Refleksi
- Apa yang paling membuat saya gelisah akhir-akhir ini?
- Apakah saya lebih sering memikirkan masalah daripada
Tuhan?
- Kepada siapa saya biasanya menceritakan pergumulan?
- Apa yang dapat saya serahkan kepada Tuhan hari ini?
I. Kesimpulan
Kegelisahan adalah bagian dari pengalaman manusia. Tetapi kegelisahan tidak boleh menjadi penguasa kehidupan kita. Ketika hati berkata, “Aku takut,” iman menjawab: “Aku tetap berharap kepada Tuhan.”
J. Doa
Tuhan, ketika hati kami gelisah,
ajarlah kami untuk tetap berharap kepada-Mu. Berikan kami kekuatan untuk
menghadapi hari ini dan iman untuk mempercayakan hari esok kepada-Mu. Amin.



.webp)
.webp)

